| on 12-03-2010 10:48
|
Views : 197  |

Kalau Ku Mati, Kau Juga Mati...
Bait lagu di atas merupakan penggalan lagu Posesif yang tak cuma mempopulerkan band Naif, melainkan juga Afy, waria yang tampil sebagai bintang video klipnya.Bagi kalangan transeksual, waria, seperti Afy, bait itu sangat menusuk tapi juga megungkapkan kondisi jiwa raga mereka. Juga kaum gay pada umumnya, sebagai sesama kaum homoseksual.
Istilah posesif – yang
berarti “rasa memiliki dan keinginan untuk menguasai pasangan secara
berlebihan” – belakangan muncul dalam kasus Ryan. Ketika korban Hery
Santoso, menawar pacarnya untuk menemani tidur dengan janji imbalan
mahal itu, ia menjadi marah.
Kisah yang mirip terjadi pada Gianni Versace, 50, perancang busana kaliber dunia, yang
tewas ditembak mantan pasangannya, Andrew Cunanan, gay berdarah
filipina di Miami, AS, 1997 lalu. Gay pelacur papan atas itu tak
menggunakan tangan orang lain untuk mengekskusi mantan kekasihnya itu,
melainkan menembak dengan tangannya sendiri.
Sikap posesif sebenarnya tak hanya ada di kalangan homoseks, tapi juga kaum hetero alias “normal”. Lihat adegan iklan rokok yang memperlihatkan gadis cantik yang selalu memonitor kegiatan pacarnya lewat handphone, sehingga si cowok memasang mesin penjawab yang sama bunyinya : “sendiri, di rumah, tidur!”. Itulah cermin cewek yang posesif terhadap cowok.
Posesif nampaknya memang watak yang melekat pada insan yang haus kasih sayang, termasuk kalangan gay. Seberapa kadarnya terpulang pada masing-masing. Tapi posesif yang berlanjut pada tindak kekejaman dan tindakan di luar batas, hanya para ahli yang menganalisa.
Dodo,
konsultan Arus Pelangi, organisasi pembela hak-hak gay, lesbian,
biseksual dan transeksual (LGBT) membantahnya. "Hubungan cinta, rumah
tangga, posesifitas, dan sensitifitas kami sama saja dengan merekayang heteroseks," ujarnya. Menurut Dodo, yang juga gay, sudah sejak lama homoseksual telah dinyatakan bukan gangguan jiwa. Namun, masyarakat masih banyak yang menganggap homoseksual adalah suatu penyakit kejiwaan.
Sedangkan Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Andrianus Meliala, kepada media online menyatakan, dari sisi akademis, hubungan cinta sejenis bukan hubungan yang sehat, seperti egosentrik. Kalau kita (kaum heteroseksual) bilang cinta, itu bukan berarti memiliki. Tapi bagi pasangan sejenis, cinta harus memiliki," katanya.
Adrianus
memaparkan, dalam “cinta platonis”, tidak ada istilah selingkuh atau
pindah ke lain hati, bagi pasangan sejenis. Dari pada kehilangan
pasangan maka lebih baik dimatikan saja. Jadi lose-lose, tidak adayang dapat pasangannya.
JARANG MENGAKU
Sebagai mana watak yang
sering dikonotasikan negatif, seperti egois, cemburu, karakter posesif
jarang diakui oleh pemiliknya. Dalam keseharian mudah menjumpai orangyang mengaku “Gue memang cemburuan” ketimbang dengan mereka yang terus terang “Iya, gue memang posesif!”
Hendra, 32, pelatih kebugaran, misalnya. Dia mengaku termasuk yang suka gonta ganti pasangan, dan tak bisa hubungan kalau nggak pakai proses, dan perasaan. “Tapi posesif dan membunuh pasangan, gue gak! Gua baek-baek aja, 'kan, “ seloroh Hendra.
“Pisah
sama pasangan itu menyakitkan. Apalagi kalau ada bau-bau selingkuhnya.
Sa..kiiiit... “ kata Hendra, 35, dengan meniru gaya Robin Onsu, pembawa
acara Super Soulmate di Indonesiar. “Tapi menyakiti pasangan atau bekas pasangan secara fisik apalagi membunuh gak lah ya, “ kata pemilik body ala binaragawan, tapi tutur katanya lembut itu.
“Lihat body aku. Aparat lihat juga ngeper. Tapi bunuh nyamuk pun aku gak bisa..” tambahnya.
Benarkah gay posesif? “Ya! Kecenderungannya sih gitu. Tapi kalo ditanya ke gue, gue sendiri gak tahu. Coba tanya sama yang
sebelah ini..” kata Erwin, 29, dengan tatapan mesra kepada pria di
sampingnya, di satu sore, di satu cafe, di kawasan Setiabudi, Jakarta
Pusat.
Dengan cuek, yang di sebelah menyuapi Erwin, potongan
blackforest, lalu membersikan pinggiran bibirnya dengan tisu, sambil
menyahut: “Lu aja kalee, gua mah enggak...!!” teriak Doddy, 27,
lagi-lagi dengan menirukan jargon pembawa Robin Onsu. |
|
|